Featured Post Today
print this page
Latest Post

Pengertian Ruang Terbuka Hijau



   Ruang terbuka hijau adalah lahan kota yang tidak dibangun, namun di arahkan untuk tujuan park dan rekreasi, konservasi lahan dan SDA lainnya, serta mempunyai makna nilai sejarah atau kualitas tertentu.
RTH kota sebagai paru-paru kota, mampu menghasilkan udara bersih dan iklim mikro. Alur sungai yang ada dalam tubuh kota di umpamakan sebagai aliran darah yang harus selalu bersih dan lancar. Ketersediaan RTH digunakan sebagai salah satu kriteria pembangunan kota sehat, dimana warga kotanya dapat hidup sehat pula. Perencanaan RTH kota harus dapat memenuhi kebutuhan warga kota dengan berbagai aktivitasnya. Kepmen PU No.387 tahun 1987, menetapkan kebutuhan RTH kota yang di bagi atas fasilitas hijau umum 2,3 mtr/jiwa, sedang untuk penyangga lingkuangan kota (ruang hijau) 15meter pangkat dua/jiwa.

Arti Penting Ruang Terbuka Hijau

   RTH menurut UU Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan Ruang adalah area memanjang atau jalur sebagai tempat tumbuh tanaman, Baik yang tumbuh secara alamiah ataupun sengaja ditanam.
 
   Keberadaan Ruang Terbuka Hijau merupakan salah satu unsur penting dalam membentuk lingkungan kota yang nyaman dan sehat. Menurut Chafid Fandeli (2004) RTH kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsih sebagai kawasan Lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau olahraga, kawasan hijau pekarangan. RTH di klasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya.

   RTH bertujuan untuk menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Dilihat dari aspek planologis perkotaan RTH diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Keberadaan RTH memberikan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah dan bersih.

   Banyak fungsi yang dapat diberikan RTH baik ekologis, sosial budaya maupun estetika yang memberikan kenyamanandan memperindah lingkungan kota baik dari skala micro maupun makro. Manfaat yang diperoleh dari keberadaan RTH baik manfaat langsung maupun manfaat tidak langsung dalam jangka panjang dan bersifat intangible.

   RTH selain sebagai kawasan lindung juga berfungsi sosial sebagai open public space untuk tempat berinteraksi sosial dalam masyarakat seperti tempat rekreasi, sarana olahraga dan area bermain. RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang.
0 comments

Sejarah Hortikultura

source : hortikultura-vibero.com

   Pada awalnya di negeri barat, Hortikultura di kembangkan untuk membedakannya dengan budidaya tanaman yang diusahakan dalam bentuk ladang, atau yang biasa disebut “field crops”. Namun dalam perkembangannya, budidaya hortikultura juga dilakukan dalam kebun yang lebih luas atau dalam bentuk “orchad”, dengan lahan yang luas dan penerapan teknologi mekanisme modern. Hortikultura merupakan salah satu sub sektor penting dalam pembangunan pertanian. Secara garis besar, komoditas hortikultura terdiri dari kelompok tanaman sayuran (vegetables), buah (fruits), tanaman bekhasiat obat (medicinal plants), tanaman hias ( ornamental plants), termasuk didalamnya tanaman air, lumut dan jamur yang dapat berfungsi sebagai sayuran, tanaman obat atau tanaman hias. Saat ini kebun hortikultura di berbagai negara dapat mencapai ratusan ribuan hektar. Di Indonesia contohnya, seperti ini juga bisa kita lihat, misalnya dalam bentuk kebun pisang dan nenas yang dikelola sebuah perusahaan swasta di Lampung, atau mangga milik sebuah BUMN di Majalengka. Hingga saat ini masih terdapat perbedaan pandangan soal pengelompokan komoditas hortikultura antara Indonesia  dengan berbagai negra lainnya di dunia. Ubi kayu, ubi jalar dan talas – misalnya, di Indonesia di anggap sebgai tanaman pangan, namun di beberapa negara lain dianggap sebagai komoditas hortikultura.

   Di Indonesia  jagung dan kedelai termasuk dalam kelompok tanaman pangan. Namun lain halnya dengan jagung manis dan kedelai endamame, yang dikategorikan sebagai yanaman hortikultura. Di sisi lain, rosella yang bunga dan buahnya dimanfaatlkan sebagai bahan berkhasiat obat, masuk dalam kategori  tanaman perkebunan. Di Indonesia bit merupakan tanaman sayuran , meski di beberapa negara termasuk tanaman Industri dan merupakan sumber gula yang penting. Di Indonesia pengusahaan bit sebagai bahan baku gula baru dalam tahap inisiasi. Secara umum, komoditas hortikultura memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pembudidayaannya memerlukan curahan tenaga intensif dengan keterampilan yang tinggi. Oleh karena itu hortikultura sangat cocok untuk di usahakan pada kondisi kepemilikan lahan yang sempit seperti Indonesia. Di berbagai negara hortikultura telah berperan nyata dalam memepercepat pengentasan masyarakatpetani dari kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan mendorong investasi di pedesaan.  Ciri lain yang sangat penting dari komoditas hortikultura adalah sifat bahannya yang cepat mengalami pembusukan, padahal produk hortikultura bernilai sangat tinggi pada kondisi segar. Hal ini menyebabkan produk hortikultura harus segera di jual setelah panen, kecuali kalau ada teknologi penyimpangan yang dapat menunda penjualan.
Kombinasi antara kepemilikan lahan yang sempit dan terpencar, serta sifat produk yang mudah busuk itu membuat posisi tawar petani dalam penentuan harga produk menjadi lemah. Mereka sering terpaksa menjual produk lainnya dengan harga murah. Sifat lainnya dari produk hortikultura adalah memakan tempat (voluminous) sehingga memerlukan cara penanganan, pengemasan, pengangkutan dan pengalaran secara khusus. Perkembangan agribisnishortikultura diikuti pula dengan berkembangnya berbagai cabang usaha, baik di hulu, di tengah dan di hilirnya. Hortikultura juga berkembang menjadi berbagai kegiatan yang terkait dengan kegemaran (Hobby) dan seni. Hortikultura menjadi bagian penting dari berbagai kegiatan masyarakat yang bersifat sosia, budaya dan pariwisata. Dengan kenyataan itu, kini hortikultura bukan hanya sekedar tanaman atau produk, melainka sudah merupakan kultur. Hortikultura hanya sekedar budidaya tetapi sudah menjadi budaya. Berbagai kenyataan yang berlangsung di tengah masyarakat tersebut membuktikan bahwa hortikultura kian berkembang pesat dan menjadi pilihan usaha. Keragaman hortikultura sebagai usaha dan sumber pendapatan keluarga tercermin dari sumbangannya dalam pendapatan keluarga. Ada yang bersifat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, usaha sambilan sampai dengan usaha bisnis secara serius dan profesional.

   Pada lahan pekarangan di pedesaan, banyak usaha hortikultura yang menjadi tumpuan kebutuhan hidup sehari-hari dan dikerjakan secara sambilan. Gerakan pemanfaatan pekarangan untuk tanaman berkhasiat obat (apotik hidup) serta buah-buahan dan syuran (sebagai warung hidup), pernah menjadi salah satu program pemerintah. Disamping itu, usaha produksi maupun jual beli serta penyediaan sarana dan jasa hortikultura, pun telah menjadi tumpuan sumber pendapatan bagi segmen masyarakat tertentu. Bahkan dewasa ini, cukup banyak masyarakat yang melakukan kegiatan budidaya hortikultura di atap-atap bangunan (roof culture) atau dalam panel vertical (verticulture). Tampaknya tren tersebut juga sudah menjadi bagian dari gerakan penghijauan kota.

0 comments

Misteri Hantu Parakang Sulawesi Selatan

Source :wallsave.com


   Di berbagai wilayah di Indonesia memang banyak menyimpan berbagai macam misteri, salah satunya di Sulawesi Selatan yang konon masyarakat biasa melihat penampakan makhluk yang biasa di sebut dengan Parakang. Bagi sebagian masyarakat di sulawesi selatan ini nama Parakang bukanlah hal yang asing lagi, karena setiap daerah di sulawesi selatan kemunculan makhluk ini biasa terjadi dan meresahkan warga sekitar.

   Mahkluk ini  sebenarnya adalah seorang manusia yang bisa berubah menjadi hewan, tumbuhan, dan segala macam bentuk. Dan orang yang menjadi Parakang ini adalah bagi mereka yang pernah belajar Ilmu hitam. Namun, mengalami kegagalan dalam mempelajarinya ilmunya.

   Wujud dari makhluk ini memang cukup aneh karena dalam merubah bentuk tubuhnya tidak sempurnah, misalkan perubahan dalam bentuk binatang biasanya ada bagian yang kurang seperti tidak memiliki ekor ataupun kaki bagian belakang tampak lebih tinggi. Kemunculan hantu ini cukup membuat warga sekitar merasa resah karena mahkluk ini kerap memakan usus anak-anak dan orang yang sedang melahirkan. selain itu parakang juga dapat mengganggu orang yang sakit seperti pengalaman yang pernah di alami oleh sahabat saya Andi Aryan kusumah, beliau melihat sesosok parakang di kamar rumah sakit tempat keluarganya dirawat. Untung saja nenek dari sahabat saya itu langsung melemparkan garam ke bagian tubuh makhluk itu , karena garam ini adalah salah satu bahan yang sangat di tidak di sukai oleh parakang. selain itu parakang juga bisa di usir dengan sekali pukulan saja dan apabila memukul lebih dari sekali, maka parakang ini akan melawan.

   Maka dari itu apabila ada keluarga yang sedang sakit ataupun keluarga yang sedang melahirkan  diharapkan agar dijaga dengan baik. Karena makhluk ini bisa saja berada sekitar kita  tanpa kita sadari.

 

1 comments

Fenomena Awan



A. Pesona Awan

   Di dalam Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 48, memberikan dasar-dasar tentang Ilmu cuaca yang bergerak dan terbentang di langit dengan segala bentuk dan warna itu diatas kehendaknya. Hal tersebut bukan diciptakan dengan sia-sia. Melainkan kita supaya dapat berfikir mempelajarinya dan dapat berbuat untuk mengaja kesimbangannya, baik dari segi manfaatnya maupun bahayanya.
   Sungguh sangat menakjubkan berbagai bentuk pesona awan yang terbentuk secara alami. Ada awan yang seperti sutera (awan sirrus), lembaran-lembaran (awan altokumulus), relief (awan stratus), Kubah atau menara (awan kumulus), kembang kol (kumulonimbus) dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk awan ini sangat bergantung pada ketinggian dan kecepatan perubahan suhu diangkasa.
   Di samping bentuk, juga dapat dilihat indahnya awan berwarna-warni di langit pada pagi hari dan malam hari. Seperti warna umumnya, terdiri atas warna pelangi, Kebanyakan warna biru yang sering dijumpai di langit. Awan yang berwarna-warni itu disebabkan adanya molekul-molekul udara dan debu serta zat-zat lain di dalam lapisan atmosfer bawah yang ditembus oleh gelombang cahaya matahari.
   Secara alamiah, pesona bentuk dan warna awan di angkasa dapat menandakan keadaan cuaca diudara sebagai tanda cuaca cerah, mendung, gelap, dan bahkan bahaya sekalipun. Oleh karena itu, untuk menanggulangi bahaya di bumi akan terjadinya badai hujan lebat yang keluar dari celah-celah awan, sebelumnya perlu mangadakan suatu pengamatan atau riset dengan menggunakan alat teknologi. Baik dengan alat yang sederhana maupun dengan alat modern, sehingga resiko tanda bahaya datangnya awan jauh-jauh hari sudah dapat di persiapkan dengan matang.

B. Proses Terjadinya Awan

   Awan mengambang diudara dengan tenangnya melayang sebenarnya merupakan gas atau uap air yang telah memadat atau berubah menjadi zat cair atau zat padat yang mengkristal. Perbedaan kabut dan halimun, terletak pada tempatnya dan kepadatannya. Kabut adalah uap air atau gas yang melayang-layang diatas permukaan laut atau pulau. Adapun, butir-butir air yang berubah menjadi titik-titik hujan yang melayang-layang atau jatuh ke bumi disebut halimun.
   Susunan awan terdiri atas gas atau uap air yang memiliki kepadatan 600-1200 titik-titik air per sentimeter pada suhu 10 derajat celcius untuk tiap kenaikan 1 kilometer diatas laut. Sedangkan, jumlah air yang terdapat dalam kabut yang ringan lebih sedikit dari awan.
   Proses terbentuknya awan secara fisika, terjadi sebagian titik embun naik ke angkasa dengan cara konveksi atau gerakan vertikal seperti terlihat pada asap api unggun dimalam hari dimusim gugur. proses selanjutnya, saat dimusim panas yang membakar, sebuah kota menjadi panas oleh sinar matahari. Suhu udara di kota ini naik melampaui suhu udara di daerah- daerah sekitarnya. Udara panas naik dan udara dingin menggantikannya. Pada gilirannya, udara yang naik menjadi lebih dingin, dan akhirnya mencapai titik jenuh. Pada titik ini, uap air di udara memadat sehingga terbentuklah awan.
   Pada tahun 1803, Luke Howard (bangsa Inggris) membagi 3 jenis dasar awan, yaitu awan berserat, awan berlapis, dan awan bertumpuk. Pada tahun 1894 Komisi Cuaca International membagi bentuk awan lebih spesifik lagi menjadi 10 kelompok dalam keluarga dengan bentuk dasar sama seperti pendapat Luke Howard diatas.

Keempat keluarga dari 10 kelompok bentuk awan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sirus, Sirrohumukus dan sirrostratus (awan tinggi) termasuk awan berserat pada ketinggian  6-12 km.     Awan ini menandakan awan cerah dengan karakteristik tidak terlalu berbahaya.

2. Altoku mulus dan altostratus (awan menengah) termasuk awan berlapis yang berada pada ketinggian       2-6 km. Awan ini menandakan hujan ringan atau salju dan tidak cukup membahayakan.

3. Stratokumukus, stratus dan nimbus stratus, (awan rendah) termasuk awan berlapis tebal yang berada     pada ketinggian 0,8-2 km. Awan ini dapat menimbulkan hujan ringan, gerimis, dan salju terus menerus.
    Awan ini cukup berbahaya.

4. Kumulus dan kumulonimbus termasuk awan bergumpal-gumpal yang berada pada ketinggian 0,5 km.
    Awan ini dapat menimbulkan hujan berat kelam atau hujan batu es dengan badai disertai angin ribut. Ini
    dapat mengganggu gelombang AM pada radio dan sangat berbahaya.
1 comments

Teori Cahaya menurut Para Ahli



   Pendapat para ahli mengenai cahaya di awali dengan teori penglihatan. Pada zaman Yunani Kuno, Pythagoras dan democritos ber pendapat bahwa kita dapat melihat benda karena benda itu mengeluarkan butir-butir yang masuk ke dalam mata. Kemudian, ilmuan lain seperti Empedock (484-424 SM), Plato (427-347 SM), dan Euclides (300 SM) mengemukakan bahwa kita dapat melihat karena dari mata kita keluar sesuatu, kemudian menumbuk butir-butir yang dikeluarkan benda yang kita lihat. Seorang ilmuan dari Arab, Alhazan (965-1038) berpendapat bahwa kita dapat melihat karena ada cahaya yang dipantulkan oleh benda itu.
   Berasal dari pendapat-pendapat tersebut, akhirnya beberepa para ahli mengembangkan teori tentang cahaya sebagai berikut.

1. Isaac Newton (1642-1727) mengenai teori emisi
    Menyatakan bahwa cahaya terdiri dari bagian masa yang sangat kecil yang dipancarkan oleh sumber    
    cahaya ke segala arah dengan kecepatan yang sangat besar.

2. Christian Huygens (1629-1695) mengenai teori modulasi/teori gelombang.
    menyatakan bahwa Cahaya pada dasarnya sama dengan bunyi/merupakan gelombang,  
    perbedaannyahanya terletak pada frekuensi dan panjang gelombangnya. Cahaya merambat dengan
    perentaraan gelombang cahaya.

3. Percobaan- percobaan Thomas Young (1778-1829) dan Agustin Fresnel (1788-1868)
    Menyatakan bahwa cahay dapat melentur dan berinterferensi. Hal ini tidak dapat diterangkan dengan teori     emisi Newton.

4. Percobaan Jean Leon Foucalt (1819-1868)
    Menyatakan bahwa kecepatan rambat cahaya dalam zat cair lebih kecil daripada kecepatan rambat
    cahaya dalam udara. Bertentangan dengan teori emisi Newton.

5. Percobaan James Clerk Maxwell (1831-1879)
    Menyatakan bahwa cepat rambat cahaya sama dengan cepat rambat gelombang elektromagnetik, dengan
    kesimpulan, bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Kesimpulan ini diperkuat oleh percobaan-
    percobaan

    a. Heinririch Rudolf Hertz (1857-1894)
        membuktikan bahwa gelombang elektrpmagnetik itu adalah gelobang transversal, sesuai denga
        kenyataan bahwa dapat menunjukkan gejala polarisasi.

    b. Pieter Zeeman (1852-1943)
        Tentang pengaruh magnet yang kuat terhadap berkas cahaya.
 
    c. Johannes Stark (1874-1957)
        Menghasilkan, bahwa medan listrik yang sangat kuat pun berpengaruh terhadap berkas cahaya.

6. Max Karl  Erust Luding Planck (1858-1947) mengenai teori kuantum cahaya.
    Menyimpulkan bahwa cahaya adalah paket-paket kecil yang disebut kwanta. Paket-paket kecil energi
    cahaya disebut photon.

7. Albert Einstein (1879-1955)
    Dengan gejala foto listrik, yakni pemancaran electron-electron suatu zat tertentu karena disinar
    menerangkan bahwa cahay memiliki sifat sebagai partikel dan gelombang electromagnetik (dualisme). Sifat     gelombang atau materi pada cahay tergantung pada cara mengamatinya.
0 comments

Berjuang bersama nelayan

Source: ajisularso.com

   Petani adalah elemen penting dalam hidup sebagian besar pendududk negeri ini. Sebab, makanan pokok bagi sebagian besar kita masih nasi dan ikan. Tanpa ikan, sulit makanan itu tertelan.
   Kalau mau jujur, betapa besar jasa petani dan nelayan ini bagi hidup kita. Sebab, merekalah yang bekerja keras membanting tulang, sehingga bisa menghasilkan bahan makanan pokok kita. Bisa di bayangkan, sekiranya mereka tidak ada.
   Sampai disini, patutlah kita jujur akan besarnya peran nelayan. kita harus memperhatikan nasib mereka. Sudah sepantasnya kebijakan berpihak kepada mereka agar kegiatannya untuk menyiapkan bahan konsumsi tidak terganggu.
   Saban hari, diantara kita munkin berteriak karena harga ikan melambung. tetapi kita tidak pernah mau mendengar teriakan nelayan ketika mereka sulit membeli bahan bakar minyak untuk operasional melaut. Kita juga mungkin tidak pernah peduli manakala mereka berteriak karena tidak bisa lagi turun ke laut.
   Lantas, dimana sesunggguhnya empati dan keberpihakan kita kepada nelayan? sementara kita juga sadar dengan data yang tersaji setiap saat didepan mata kita bahwa para nelayan kita masih tergolong masyarakat miskin, bahkan sangat dominandalam daftar keluarga miskin. Mayoritas diantara kita mereka adalah keluarga prasejahtera yang selalu butuh bantuan agar bisa keluar dari belenggu kemiskinan. Bahkan yang paling memprihatinkan karena mereka juga sulit mnyekolahkan anak-anaknya, sehingga terancam bernasib sama dengan orang tuanya bekerja sebagai petani dan nelayan miskin. Akibatnya, lingkaran kemiskinan terus membelit mereka.
   Untuk itu, atas nama kemanusiaan, nasib nelayan juga harus diperhatikan dan diperjuangkan untuk bisa meraih kemandirian. Jika mereka sudah bisa mandiri secara ekonomi, tentu angka kemiskinan juga akan menurun. Sebab yang miskin selama ini dari penduduk negeri ini umumnya dari kalangan petani dan nelayan. Mereka harus lebih dimanusiakan.
   Nelayan memang seharusnya didengar keluh kesahnya. Sebab, selama ini mereka kurang mendapat ruang untuk berkeluh kesah, hanya sebatas itu, tidak ada tindak lanjut yang menunjukkan bahwa ada keberpihakan kebijakan pemerintah kepada mereka.
   Contoh kongkret adalah musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang)yang selama ini menjadi wadah penyaluran aspirasi dan mengetahui keinginan nelayan, cenderung hanya menjadi seremoni belaka. usulan usulan yang masuk seringkali menguap di tengah jalan, sehingga hampir tidak ada kepentingan mereka yang terakomodasi. Jadilah musrenbang kemudianlebih banyak mengadopsi kepentingan elit, sehingga nelayan tetaplah nelayan. Harapan mereka mencapai kemandirian tetap saja tinggal.
0 comments

Terbentuknya Fatamorgana

A. Pengertian Fatamorgana

   Fatamorgana merupakan sebuah peristiwa alamiah yang sangat menakjubkan yang disebabkan adanya perbedaan kerapatan optik (benda bening) dari dua medium yang berbeda. Semua ini terjadi saat cahaya melewati kedua medium yang berbeda, dan yang tampak oleh seorang pengamat seolah-olah melihat sebuah genangan air di depannya.
   Al-Quran surat An-Nuur ayat 39 di atas, jauh lebih dulu meletakkan dasar-dasar "ilmu pembiasan (cahaya)" sebelum teori ini ditemukan oleh Willebrord Snell (1621). Ia seorang ilmuan asal Belanda yang hukumnya sampai sekarang masih berlaku. Hukum ini dinamakan hukum Snellius.
   Islam yang kitab sucinya Al-Quran, dalam mengupas gejala fatamorgana ini tidak satu pun terlepas hubungan antara penguasaan IPTEK dan keseimbangan IMTAQ. Dengan kata lain, dalam mempelajari gejala-gejala fatamorgana baik dari pendekatan sains maupun pendekatan Al-Quran tidak ada pertentangan. Sebaliknya, penguasaan sains itu sebagai penguat IMTAQ. Sedangkan nilai IMTAQ mengendali keseimbangan kehidupan alam sekitarnya. Pada akhirnya, islam itu membawa keselamatan bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).
 
B. Kejadian Fatamorgana
 
   Fatamorgana sering dijumpai di padang pasir yang luas, jalan-jalan licin beraspal, di lautan, dan angkasa. Prinsip kejadiannya berdasarkan "Pembiasan Cahaya". Dimana hanya berlaku pada medium zat atau benda tembus cahaya yang terjadi melalui lapisan-lapisan udara yang berbeda suhunya. Di udara dingin lebih pekat dan lebih berat daripada diudara panas sehingga beda kerapatannnya.
   Secara kuantitas, proses pembentukan fatamorgana baru dapat di pecahkan oleh Willebrord Snell (1621). Sampai sekarang masih berlaku yang dikenal sebagai "indeks bias". Proses singkatnya adalah sebagai berikut. menembusnya Fatamorgana terjadi apabila lapisan udara yang panas yang adadi dekat tanah terperangkapoleh udara yang lebih sejuk diatasnya. Cahaya dibiaskan kearah garis horizontal pandangan dan akhirnya berjalan ke atas karena berpengaruh pemantulan "internal total".
   Dengan kata lain, cahaya berjalan di dalam medium yang mempunyai indeks biasyang tinggi (air, kaca, plastik) ke medium yang mempunyai indeks bias yang lebih rendah (udara). Indeks bias adalah perbandingan proyeksi sinar dari medium zat optik yang rapat ke medium zat optik yang kurang rapat. Akibatnya, Byangan gambar "semu" yang terbalik akan terbentuk fatamorgana.
1 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. New-word20 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger